Minggu, 13 November 2016

Budaya ishari masyarakat dusun beyan Diwek Jombang


Keberadaan seni hadrah yang tergabung dalam Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) semakin terpinggirkan oleh zaman. Seni pembacaan salawat yang diiringi dengan terbang (rebana) dan gerakan tarian dari puluhan laki-laki (rodat) sudah jarang ditemui di tengah kota. Keberadaanya lebih banyak didesa-desa yang masih membudayakan seni hadrah dengan para rodatnya.
Serambi Masjid Jami al Ma'ruf dipadati umat Islam dari berbagai generasi pada kamis (10/11) malam. Cuaca yang bersahabat membuat para pecinta Nabi berbondong-bondong ke masjid yang umurnya sudah lebih dari satu abad itu.
Mereka duduk bersama sambil membacakan Shalawat Nabi dengan irigan terbang Albanjari. Terbang lbanjari bukan hal yang baru bagi umat Islam yang ada di Kota Malang. Hampir di setia majelis taklim, masjid dan jamaah memiliki grup terbang Albanjari yang alunan musiknya dapat diubah kontemporer.
Tapi yang membuat mereka betah berlama-lama duduk di serambi masjid, selain karena kecintaanya kepada kanjeng Nabi, mereka juga menunggu penampilan seni hadrah bersama rodat yang ditampilkan  Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) dusun beyan.
Berbeda terbang Albanjari, seni hadrah memiliki pakem tersendiri baik dalam lagu, pukulan terbang hingga tarian yang dilakukan puluhan hingga ratusan orang jamaah laki-laki atau yang dikenal dengan istilah rodat/tretek(bahasa sebutan warga beyan). Sesuatu yang khas dari kesenian ini ialah tarian yang mengiringi syair (yang dilagukan) dan musik rebana (terbang) yang dinyanyikan secara bersama-sama (berjamaah). Tarian inilah yang disebut dengan “rodat”
Seni hadrah (rodat) merupakan salah satu kesenian tradisi di kalangan umat Islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati Maulid Nabi di kalangan umat Islam. Kesenian ini menggunakan syair berbahasa Arab yang bersumber dari Kitab Al-Berzanji, sebuah kitab sastra yang terkenal di kalangan umat Islam yang menceritakan sifat-sifat Nabi dan keteladanan akhlaknya. ”Dulu seni hadrah berkembang dengan pesat di kalangan pesantren-pesantren. Sekarang ada beberapa cabang ISHARI di Kabupaten Jombang dan semuanya masih tetap eksis. Selama Maulid pun banyak undangan yang hadir. Hampir selama 40 hari banyak undangan yang kami terima,” kata sesepuh ISHARI dusun Beyan.
Menurut beliau selaku sesepuh bahwa ISHARI sudah diperkenalkan sejak kecil, dimana hal ini juga menjadi sebuah jam extra pada sebuah sekolah yg ada di dusun kami. ”Kami terus melakukan pengembangan dari generasi ke generasi. Generasi muda banyak direkrut untuk melestarikan seni hadrah yang dulunya dikembangkan para ulama dikalangan pesantren," tuturnya.
Tarian yang dilakukan para rodat pun memiliki filosifi tersendiri. Tidak hanya asal menari. Nama rodat berasal dari Bahasa Arab dari kata Rodda yang artinya bolak-balik. Para penari itu memang selalu bolak-balik dalam menggerakan tangan, badan serta anggota tubuh lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar